Tampilkan postingan dengan label bojonegoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bojonegoro. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Maret 2013

Industri Kerajinan Kayu Jati



Produk kerajinan kayu jati semakin banyak digemari semua kalangan, baik berupa hiasan rumah, perlengkapan dan perabot rumah tangga. Slogan “Back To Nature” membuat produk bahan kayu jati sangat laris dan banyak dicari, dan dengan torehan cita rasa seni menggantikan produk dari bahan lain seperti bahan plastik, kaca atau tembikar.

Hasil hutan berupa kayu jati, sortimen kayu rimba, limbah kayu gergajian, akar (tunggul atau tunggak [bahasa jawa]) merupakan bahan dasar yang dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tinggi, baik nilai manfaat maupun nilai seni. Berbagai desa di sekitar Kota Cepu entah yang termasuk Kabupaten Blora, Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Ngawi mengembangkan masyarakat pengrajin kayu jati yang bernilai tinggi.

Kerajinan bubut kayu telah lama ditekuni masyarakat desa
-desa di sekitar Kota Cepu, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah dan daerah lain yang berdekatan. Kerajinan ini memanfaatkan limbah gergaji kayu jati yang diperoleh dari KPH Cepu, KPH Bojonegoro, KPH Ngawi, KPH Randublatung.


Bahan batang kayu ditemukan sebagai sortimen pendek yang berdasarkan pengelompokan bentuk-bentuk sortimen pendek sekitar 16 ragam, untuk bahan baku industri kecil dan pengrajin kayu jati. Bentuk sortimen yang paling banyak ditemukan adalah bagian ujung batang, atau pangkal cabang, dengan diameter rata-rata 16,9 cm. Bahan diperoleh dari KPH melalui sistem lelang besar, lelang kecil, penjualan dengan perjanjian, dan sistem penjualan langsung. 
Bagi pihak KPH dari sistem-sistem itu, sistem penjualan langsung mencapai rata-rata 54 % dari total penjualan dengan pembeli umumnya berasal dari industri kecil bubut kayu sekitar KPH. 
Dalam sistem penjualan langsung, umumnya industri kecil melakukan pembelian besar bahan melalui koperasi bersama-sama, dengan jumlah pembelian masing-masing yang beragam karena keterbatasan modal. Industri kecil kerajinan kayu jati rata-rata per bulan menghabiskan bahan baku 3,84 m3.

Pemanfaatan sortimen pendek di wilayah KPH Cepu terbagi ke dalam dua industri, yaitu:
(1). industri kecil bubut kayu yang mengolah sortimen pendek jenis A1 dan A11 untuk dijadikan barang kerajinan tangan (handicraft) seperti guci, wadah payung, keranjang buah, kursi, lampu petromaks, motor-motoran harley, kapal, sepeda, lampu belajar, jam jangkar, penyangga water dispenser, asbak, pas bunga, dan barang kerajinan lainnya., dengan pemasaran produk lokal.
(2). Pusat Kerajinan Jati Cepu yang mengolah sortimen pendek jenis AIII untuk dijadikan barang jadi dan setengah jadi seperti parket block, laminated parket, finished floor, pintu, fancy wood fil, meja, kursi, lemari dll dan barang lainnya, dengan pemasaran produk umumnya untuk ekspor





Suatu penelitian menelusuri saluran pemasaran kerajinan bubut kayu jati dan menemukan empat rantai pemasaran yaitu :
Rantai pemasaran I : dari pengrajin produsen ke pedagang pengecer hingga konsumen.
Rantai pemasaran II : dari pengrajin produsen melalui pedagang pengumpul (showroom) terdekat  sampai ke konsumen.
Rantai pemasaran III : dari pengrajin produsen melalui pedagang pengumpul (showroom) terdekat disalurkan pedagang pengecer di kota sampai konsumen
Rantai pemasaran IV : dari pengrajin produsen melalui pedagang pengumpul (showroom) terdekat disalurkan ke pedagang pengekspor sampai ke konsumen
Fungsi-fungsi yang dilakukan oleh masing-masing
unit dalam rantai pemasaran kerajinan bubut kayu jati berbeda-beda namun secara umum fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan meliputi :  finishing, promosi, pajangan, pameran, transportasi, pengepakan, retribusi, bongkar muat, asuransi risiko. Setiap unit dalam rantai ditingkat penyaluran produk pengrajin bubut kayu jati pada saluran memungut margin tertentu dari harga. Besar kecilnya margin pemasaran berpengaruh terhadap share yang diterima oleh pengrajin. Semakin panjang rantai pemasaran sampai konsumen, semakin besar margin untuk unit-unit pemasaran, maka semakin kecil share yang diterima pengrajin; atau sebaliknya, semakin pendek rantai pemasaran sampai ke konsumen, semakin kecil margin pemasaran, maka semakin besar share yang diterima pengrajin.

Data dari para perajin, harga cendera mata di desa setempat, mulai asbak, vas bunga, jam dinding, juga lainnya mulai Rp20 ribu hingga Rp100 ribu/cendera mata, sedangkan mebel mulai harga Rp1 juta hingga Rp7 juta/unit. Omzet perajin kecil sekitar Rp2 juta/bulan, namun perajin besar yang memiliki showroom sendiri bisa mencapai Rp50 juta/bulan.