Tampilkan postingan dengan label root base social decision making. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label root base social decision making. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Maret 2013

Membangun Kesadaran Kritis dan Partisipasi Aktif

Metode CO-PAR atau Community Organising through Participatory Action Research yang dipakai oleh CINDELARAS PARITRANA adalah hasil sintesa dari 3 alat penelitian partisipatoris yang selain untuk mendapatkan kesimpulan sahih, juga untuk pendidikan penyadaran dan sekaligus untuk pengorganisasian (menyatukan platform perjuangan rakyat). Alat yang pertama adalah alat penelitian yang berupa serial kuesioner yang didesain, dicobakan dan dikembangkan oleh Francis Wahono selama tahun 1992/ 1993 untuk penelitian lapangan di dua desa di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Penelitian untuk penulisan disertasi Ph.D. bidang perubahan sosial ekonomi di pedesaan itu sendiri adalah kombinasi penelitian kuantitatif dan kualitatif dan banyak diskusi partisipatifnya dari 17 enumerator yang berasal dari masyarakat. Adapun alat yang kedua adalah dari buku CO-PAR yang dikembangkan dan dipakai oleh para aktivis sosial dan akademisi kontekstual di Filipina Selatan. Sedang alat yang ketiga adalah dari kumpulan karangan mengenai penelitian partisipatif yang dikeluarkan oleh Social Institute di India.

CO-PAR pertama dalam kerangka CINDELARAS PARITRANA, dicobakan di sepuluh dusun di dua desa di Pacitan untuk studi mengenai usaha-usaha off-farm masyarakat dengan tekanan pada keadilan gender pada tahun 1999. Pada CO-PAR pertama, pendesain penelitian, Francis Wahono masih 90% terlibat dalam penelitian. CO-PAR kedua dilakukan untuk masyarakat Lo-Rejo yang berjumlah tiga dusun. CO-PAR kedua ini sudah disederhanakan dari segi kuesioner, jauh lebih sedikit dan fokusnya adalah mengetahui tingkat kemiskinan (termasuk yang tersembunyi) dari masyarakat. Pada CO-PAR kedua ini, pendesain penelitian sudah tidak terlalu banyak terlibat dalam penelitian. Pada CO-PAR ketiga, yakni dilaksanakan di Praon, Gunungkidul. Model CO-PAR-nya sudah lebih disederhanakan lagi dan fokusnya ada dua, yakni tingkat kemiskinan dan peran perempuan. Pada CO-PAR ketiga, pendesain penelitian sudah sama sekali tidak ikut dalam penelitian. Pada CO-PAR ketiga ini pelaku penelitian adalah para staff CINDELARAS PARITRANA.

Walaupun pada kedua CO-PAR, baik di Lo-Rejo maupun di Praon pendesain penelitian tidak ikut secara penuh, prinsip-prinsip participatory research masih dijalankan. Lebih dari itu, sejak tahun 2002 setiap pembukaan dari suatu komunitas untuk bergabung ke dalam pendampingan CINDELARAS PARITRANA, CO-PAR jauh lebih sederhana dan fleksibel, mendekati CO-PAR a la Filipina dan India. Dalam penyederhanaan yang difokuskan ada 5 (lima) pemetaan masyarakat: peta geografi, peta sosiatri, peta sumber penghidupan, peta sumber pendapatan, analisa deficit ekonomi dan non ekonomi (politik, sosial, budaya, keadilan gender, dan kerukunan hidup beragama), dan peta akar-akar kegagalan bertani dan berusaha. Dari hasil temuan lapangan, yang umumnya melibatkan para narasumber utama pedesaan dan orang-orang muda mereka, masyarakat petani desa mengadakan pembahasan bersama. Hasil pembahasannya adalah: (1) kesadaran bersama mengenai nasib mereka mengapa dipermiskin dan diperbodoh, dan oleh kekuasaan yang mana; (2) penemuan mengenai akar-akar pemiskinan dan pembodohan; (3) kemampuan mengidentifikasikan sumber-sumber penghidupan yang mana sajakah yang harus mereka perjuangkan secara damai dan legal hingga dapat mereka kuasa kembali; (4) usaha-usaha pengorganisasian, jejaring, kampanye, advokasi dan lobby apa yang perlu mereka lakukan tahap demi tahap; dan (5) model-model alternatif apa sajakah yang sudah mereka mulai sebagai pilot project.